The Stage of Love
“Oh, Putri, ternyata kau cantik sekali, tak sanggup peluruku menembus halus kulitmu.” Pembunuh Bayaran perlahan menurunkan senapannya.
“Kalau begitu, pergilah!!! Tinggalkan aku disini” tutur Putri Salju lembut.
“Kusarankan Putri, jangan pernah kembali ke kerajaan, karena ratu akan murka jika tahu kau masih hidup. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk membunuhmu.” Pembunuh Bayaran menundukkan kepalanya.
Putri Salju berbalik hendak pergi, namun baru selangkah ia meninggalkan tempat itu, Pembunuh Bayaran menarik lengannya. Genggaman yang kuat membuat Putri Salju berbalik dan tatapan memikat tiba-tiba muncul dari mata Pembunuh Bayaran itu.
“Jika kau bersedia, menikahlah denganku dan aku akan membawamu jauh, menjauhi kekejaman Sang Ratu.” kata Pembunuh Bayaran begitu lembut.
Tepuk tangan penonton menggema di aula teater itu. Chacha menatap Reza bingung, harus menjawab apa. Adegan ini tidak ada dalam naskah. Dan kali ini Reza tak memperlihatkan jawaban apapun.
“Maaf, tapi aku benar-benar ingin sendiri untuk saat ini.”jawab Chacha akhirnya. Tentunya pemeran Putri Salju ini tak mau teater sekolah mereka kalah karena juri tahu ada kesalahan dalam permainan.
Genggaman itu lepas, Chacha segera berlari menuruni panggung, ia tak mau Reza mengatakaan hal lain yang ia tak mengerti. Namun semua itu membuat Chacha bingung, Reza mengatakannya seolah-olah ia benar-benar mengutarakan perasaannya.
***
Chacha menarik tas dari bangkunya kelas. Hari yang meletihkan tapi menyenangkan. Hari ini dilewati dengan perayaan atas kemenangan kelompok teaternya dalam perlombaan kemarin. Sekarang saatnya pulang dan istirahat.
“Cha, ada yang nunggu di depan pintu.” sahut Devi dari ambang pintu.
Chacha tersenyum mengangguk dan menuju pintu kelas. Seseorang berdiri membelakanginya. Tapi dari model rambutnya yang belum diubah sejak pementasankemarin Chacha tahu siapa pria ini. Kelasnya tepat disamping kelas Chacha, Reza.
“Ngapain, Za?”Tanya Chacha.
“Eh…” Reza berbalik. “Hmm… aku mau tanya. Soal teater kemarin, jika kata-kata yang ga ada dinaskah itu benar, kamu mau nerima aku?”
“Nerima? Jadi apa? Istri kamu?” chacha tertawa walau ia sudah tahu pasti maksud ucapan Reza.
“Ya kamu tahu, lah maksud aku.” Reza nyengir.
“Hm… aku mau, sih… tapi buat hari ini anterin aku pulang, ya! Kamu bawa motor, kan?”
“kalau jalan dulu mau, ga? Kalau nganterin soal pulang tiap hari bakal aku anterin.”
“Yuk!!!”
Chacha berjalan disaming Reza sementara murid telah terlebih dahulu pergi. Mungkin istirahat harus diundur dulu. Ia membayangkan, setelah ini sekolah pasti akan heboh. Karena pada akhir cerita Putri Salju bukanlah menjadi milik Sang Pangeran, melainkan milik Pembunuh Bayaran.
Karya: Intan Ekaverta, MAN Cendikia Muaro Jambi
.jpg)