Laman

Minggu, 28 Maret 2010

The Stage of Love

“Oh, Putri, ternyata kau cantik sekali, tak sanggup peluruku menembus halus kulitmu.” Pembunuh Bayaran perlahan menurunkan senapannya.

“Kalau begitu, pergilah!!! Tinggalkan aku disini” tutur Putri Salju lembut.

“Kusarankan Putri, jangan pernah kembali ke kerajaan, karena ratu akan murka jika tahu kau masih hidup. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk membunuhmu.” Pembunuh Bayaran menundukkan kepalanya.

Putri Salju berbalik hendak pergi, namun baru selangkah ia meninggalkan tempat itu, Pembunuh Bayaran menarik lengannya. Genggaman yang kuat membuat Putri Salju berbalik dan tatapan memikat tiba-tiba muncul dari mata Pembunuh Bayaran itu.

“Jika kau bersedia, menikahlah denganku dan aku akan membawamu jauh, menjauhi kekejaman Sang Ratu.” kata Pembunuh Bayaran begitu lembut.

Tepuk tangan penonton menggema di aula teater itu. Chacha menatap Reza bingung, harus menjawab apa. Adegan ini tidak ada dalam naskah. Dan kali ini Reza tak memperlihatkan jawaban apapun.

“Maaf, tapi aku benar-benar ingin sendiri untuk saat ini.”jawab Chacha akhirnya. Tentunya pemeran Putri Salju ini tak mau teater sekolah mereka kalah karena juri tahu ada kesalahan dalam permainan.

Genggaman itu lepas, Chacha segera berlari menuruni panggung, ia tak mau Reza mengatakaan hal lain yang ia tak mengerti. Namun semua itu membuat Chacha bingung, Reza mengatakannya seolah-olah ia benar-benar mengutarakan perasaannya.

***

Chacha menarik tas dari bangkunya kelas. Hari yang meletihkan tapi menyenangkan. Hari ini dilewati dengan perayaan atas kemenangan kelompok teaternya dalam perlombaan kemarin. Sekarang saatnya pulang dan istirahat.

“Cha, ada yang nunggu di depan pintu.” sahut Devi dari ambang pintu.

Chacha tersenyum mengangguk dan menuju pintu kelas. Seseorang berdiri membelakanginya. Tapi dari model rambutnya yang belum diubah sejak pementasankemarin Chacha tahu siapa pria ini. Kelasnya tepat disamping kelas Chacha, Reza.

“Ngapain, Za?”Tanya Chacha.

“Eh…” Reza berbalik. “Hmm… aku mau tanya. Soal teater kemarin, jika kata-kata yang ga ada dinaskah itu benar, kamu mau nerima aku?”

“Nerima? Jadi apa? Istri kamu?” chacha tertawa walau ia sudah tahu pasti maksud ucapan Reza.

“Ya kamu tahu, lah maksud aku.” Reza nyengir.

“Hm… aku mau, sih… tapi buat hari ini anterin aku pulang, ya! Kamu bawa motor, kan?”

“kalau jalan dulu mau, ga? Kalau nganterin soal pulang tiap hari bakal aku anterin.”

“Yuk!!!”

Chacha berjalan disaming Reza sementara murid telah terlebih dahulu pergi. Mungkin istirahat harus diundur dulu. Ia membayangkan, setelah ini sekolah pasti akan heboh. Karena pada akhir cerita Putri Salju bukanlah menjadi milik Sang Pangeran, melainkan milik Pembunuh Bayaran.

Karya: Intan Ekaverta, MAN Cendikia Muaro Jambi

Senin, 22 Maret 2010

Sampai Jumpa di UGM

“Maaf…” Dila meraih jemari Maya yang lemas dan dingin.

“Bukan salah kamu.” Maya menunduk lesu, menyembunyikan dua matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Kalau begitu maaf jika-kemarin-kemarin aku punya salah.” Dila memejam pelan meneteskan dua butir air mata.

Maya mengangguk bisu sementara tubuhnya yang beku mulai bergetar hebat tak sanggup menahan alir dari dua pelupuk matanya. Kepalanya mulai berdiri dan mata basahnya menatap dalam sahabat didepannya yang akan pergi karena pekerjaan orang tua yang tak dapat dimengerti. Dan bagaimana bisa orang yang telah dianggapnya saudara harus pergi. Bahkan, Dila adalah teman yang tak pernah absen sebangku dengannya sejak mereka menduduki bangku sekolah dasar hingga kini, tahun pertama SMA. Dila pula yang selalu menjadi guru ketika ia tak mengerti pekerjaan rumah yang diberikan, dan Dila pula sebagai tempat berbagi yang mampu memberikan solusi bijaksana dalam kedewasaannya. Apakah ia sanggup tak punya Dila lagi?

“May, kamu punya cita-cita, kan?” tanya Dila dengan mata yang juga basah.

Untuk yang kedua kalinya Maya mengangguk bisu. Bibirnya yang gemetar tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.

“Dan kamu ingat, kita punya rencana kuliah di UGM.”

Lagi-lagi Maya hanya mengangguk. Sejenak hening, mereka diam. Tak salah jika orang seperti Dila mempunyai cita-cita yang tinggi. Ia memang rajin tak begitu saja putus asa jika sekali gagal. Semangatnya tinggi, dan semangat itulah yang selalu ditularkannya kepada Maya ketika Maya mulai jenuh. Itu pulalah yang membuat Maya tak percaya jika nanti Dila pergi ia akan bisa melawan kejenuhannya.

“Kita pasti akan ketemu dua tahun lagi, di UGM.” suara Dila memecah, penuh percaya diri.

“Tapi,” Maya menatap Dila dalam, mencari kejelasan tentang bagaimana ia akan bisa tanpa orang yang selama ini dianggapnya peri prestasinya. Tak ada jawaban. “Dil, aku tak pernah mengerti matematika sebelum kamu menjelaskannya. Dan jika kamu pergi…”

“May!” Dila balik menatap Maya tajam. “Apa sih yang ngga bisa? Kamu kira selama ini yang membuat nilaimu tinggi itu, aku? Ngga, May. Kamu pasti bisa sendiri.”

“Dil, tapi aku…”

Dila langsung memeluk erat sahabatnya. Berat, sangat berat. Jika saja ia boleh memilih, ia tak akan pergi. Namun kenyataan bahwa ia masih membutuhkan kedua orang tuanya, membuatnya tak dapat tinggal.

“Dila, kita sudah terlambat, nanti ketinggalan pesawat. Kalau sempat kita akan main kesini, kok.” ibu Dila tersenyum lembut.

Maya perlahan melepas peluk sahabatnya. Air mata yang mengalir dari dua pasang sinar mata mereka masih belum berhenti. Sepatah katapun tak dapat keluar lagi dari kuncup bibir mereka.

“Kita bisa May…” bisik Dila pelan, lalu menjauh, memasuki mobil yang sedari tadi menunggu.

Maya kini benar-benar harus melepas Dila. Seorang sahabat bahkan saudara yang tak kan pernah dimilikinya lagi. Karena tak ada lagi yang dapat mengganti kenangan manis bersama Dila setelah lima belas tahun duania dilewatinya.

Dila memasuki mobil dan melambai dari kaca yang terbuka lebar. Sementara roda-roda mobil itu mulai menjauh perlahan. Dila menatap tajam dan berteriak keras,”Sampai jumpa di UGM!!!”. Dan mobil pun melaju kencang.

Maya terdiam, kakinya tak sanggup menjauh. Dila pergi, dan entahkah bisa ia memenuhi pertemuan nanti di UGM. Ia tak yakin ia bisa, ia tak yakin…

***

Maya memandang kampus barunya sekaligus setiap orang yang lalulalang. Ia mencari Dila, sahabat yang ia rindukan. Yang pernah pergi dan telah lama tak berkomunikasi dengannya. Sahabat yang membuatnya berjuang menggapai banyak bintang dua tahun terakhir ini sehingga ia berhasil mencapai puncak, dan kini menjadi mahasiswi disini, di UGM, dengan beasiswa hasil prestasinya. Ia tak sabar lagi menceriakan banyak hal yang lama dipendamnya dan megeluarkan apa saja yang telah direncanakannya sejak semalam, dimana ia tak dapat tidur memikirkan hari ini.

“Maya,” suara lembut datang dari belakangnya. Maya menghentakkan napas, sejenak memejamkan mata, siap melihat Dila di belakangnya yang baru saja memanggilnya. Siap memeluk sahabatnya dengan segala sinar kerinduan. Siap mengumbar banyak cerita, bahkan siap menangis Karen tangis bahagia.

Dan ia berbalik, dengan senyum tertahan. Namun, bukan Dila dibelakangnya. Melainkan seorang wanita berbalut pakaian hitam dengan air mata duka. Wanita yang diingatnya dulu lebih muda, ibu Dila.

.“Dila mana, Bu?” tanya Maya kecewa, dan mulai menebak-nebak dalam hatinya apa arti pakaian yang dikenakan ibu Dila itu. Apakah Dila…

Maya menepis tiap hal buruk yang terlintas dipikirannya. Ia meyakinkan diri bahwa Dila…

“Tadi, baru saja, Dila dimakamkan. Kemarin Dila kecelakaan. Namun sebelum pergi Dila sempat berpesan dan membuat surat untukmu.” jawab ibu Dila dengan tangis.

Maya merasakan bahwa air mata yang disiapkannya tadi jatuh dalam kekecewaan sekaligus kepedihan yang amat sangat. Bahwa kini timbul getaran hebat yang mengguncang tiap sudut organnya sehingga isaknya tak tertahan. Ia beku, bibirnya kelu, kakinya terpaku. Adakah ia akan sanggup?

Karya: Intan Ekaverta, MAN Cendikia Muaro Jambi

Sabtu, 13 Maret 2010

Aku diam
Dikala gelap
Menatap nanar pada bulan seram
Yang tak dikelilingi bintang

Aku bertanya
Padahati nan beku
Adakah jika malam ini sepi
....
(silahkan lanjutkan!!! hhe...)